Apapun yang diberikan Allah kepada manusia pasti baik, namun tidak semua yang diinginkan manusia mengandung kebaikan

Selasa, 14 Maret 2017

BERKARYA UNTUK KEMANUSIAAN

BERKARYA UNTUK KEMANUSIAAN
DR. La Jamaa, MHI

   Hidup ini singkat. Karena itu hidup setiap manusia harus bermakna bukan saja untuk diri sendiri namun bermakna untuk sesama manusia dan makhluk hidup di alam ini. Tiap orang dapat berkarya sesuai dengan kemampuan intelektual dan pengalamannya. Dalam konteks ini karya seseorang tidak harus sama dan memang tidak selalu sama, sehingga saling melengkapi antara satu sama lain di antara mereka. Apalagi latar belakang pendidikan dan pengalaman setiap orang tidaklah sama.
   Nilai seseorang  pada hakekatnya tidak diukur berdasarkan usianya selama hidup di dunia, namun diukur dari seberapa besar/banyak manfaat yang mampu diberikan untuk kemaslahatan hidup sesama manusia dan makhluk hidup di alam semesta ini. Banyak orang-orang besar yang namanya tetap hidup sepanjang sejarah hidup manusia meskipun yang bersangkutan telah lama meninggalkan alam fana ini. Nama mereka hidup berdasarkan hasil karya yang sukses mereka tinggalkan untuk kepentingan manusia dulu, sekarang dan yang akan datang. Karya-karya mereka bukan saja di bidang sains, teknologi namun juga mencakup para ulama yang meninggalkan karya pemikiran untuk umat manusia sepanjang sejarah. Atas jasa Thomas Alva Edison misalnya, manusia modern bisa menikmati berbagai fasilitas teknologi yang pada umumnya menggunakan tenaga listrik. Begitu juga para penemu berbagai alat teknologi yang dinikmati umat manusia dewasa ini.
   Dalam bidang pemikiran keagamaan, para ulama salaf, dan khalaf hingga era kontemporer ini telah mewariskan kitab-kitab yang tak terhitung jumlahnya yang memudahkan umat Islam memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dalam al-Qur'an dan hadis. Tak bisa dibayangkan jika seandainya para ulama tersebut tidak berijtihad dan meninggalkan karya-karyanya. Mungkin ayat-ayat al-Qur'an dan hadis hanya bisa dibaca namun bagi kebanyakan umat Islam sulit untuk diamalkan dalam kehidupan. Berbagai ketentuan hukum beribadah saja misalnya, ternyata bukan dirumuskan secara detail dalam wahyu. Rumusan detail ketentuan ibadah dalam Islam itu merupakan hasil ijtihad para ulama.
   Para teknokrat/arsitek mewariskan bangunan-bangunan yang sangat bermanfaat untuk manusia. Dalam pelaksanaan ibadah pun dibutuhkan bangunan khusus yang disebut masjid. Bangunan masjid butuhkan rancangan yang matang sehingga jasa arsitek sangatlah besar. Bangunan masjid meskipun dimanfaatkan untuk ibadah kepada Allah namun jika tidak dirancang sesuai ketentuan sunnatullah oleh ahlinya (arsitek) kemungkinan besar tidak bisa bertahan lama.
  Karena itu setiap orang dapat berkarya untuk kebaikan apapun yang bisa dilakukannya. Tentunya bukan karya yang dapat merusak alam semesta dan membahayakan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Sekecil apapun karya kebaikannya insya Allah akan dicatat dalam catatan buku kebaikan di alam metafisika sana. Buku catatannya akan diperlihatkan kepadanya dengan objektif tanpa dikurangi dan ditambah-tambahi sedikit pun. Malaikat pencatat kebaikan setiap hamba sangatlah objektif, tidak mungkin bersikap KKN dengan manusia. Malaikat tidak punya kepentingan apa-apa dalam melakukan tugasnya sebagai pencatat amal setiap hamba Allah. Sikap objektivitas malaikat pencatat amal perbuatan manusia memang sangat sempurna disebabkan malaikat hanya punya akal tanpa hawa nafsu, sebagaimana yang ada pada manusia. Akal manusia memang mampu melambungkan manusia ke puncak kebaikan ibarat malaikat namun hawa nafsunya yang jahat dapat menjerumuskan manusia ke jurang kebinatangan, bahkan menurut al-Qur'an pada tataran tertentu perbuatan jahat manusia bisa melampaui sifat kebinatangan.
   Karena itu dalam menghasilkan karya untuk memanusiakan manusia dan kemanusiaan, akan berhadapan dengan perang antara akal dan hawa nafsu. Akal dan nafsu muthma'inahnya yang mengantarkan manusia kepada pikiran yang maslahat untuk manusia dan kemanusiaan namun nafsu su'nya akan mengantarkan karya-karya yang dapat membahayakan manusia dan kemanusiaan. Dengan demikian tantangannya sangatlah besar. Sehingga membutuhkan mujahadah antara akal, nafs rabbani dengan nafsu su, nafsu lawwamah.  Akal dan nafs rabbani akan mendorong dan mengantar seseorang kepada kemuliaan, dan kemaslahatan bagi manusia dan kemanusiaan. Sedangan nafsu su' akan membawa manusia kepada sikap permusuhan, kemudaratan bagi manusia dan kemanusiaan. Meskipun yang bersangkutan menyangka dirinya telah melakukan berbagai kegiatan-kegiatan besar untuk kemaslahatan manusia. Hal itu tidak disadarinya lantaran hawa nafsunya telah menghiasi semua perbuatan buruknya terasa benar sehingga orang-orang semacam itu mudah menyepelekan usaha orang lain. Mereka merasa hanya mereka yang berjasa, sedangkan orang lain tak punya jasa apa-apa.
    Wallahu a'lam bis shawwab

Wallahu a'lam bis shawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar