Integrasi Matematika dan Islam
Dr. La
Jamaa, MHI
A. Pendahuluan
Islam adalah agama yang diturunkan kepada umat manusia dalam segala ruang,
waktu dan kondisi. Karena itu ajaran Islam memiliki nilai kebenaran yang
universal sehingga bisa cocok untuk semua manusia yang mau menerima kebenaran.
Dalam kaitan ini Rasulullah saw telah mengajarkan bahwa ad-dinu huwa
al-‘aqlu la dina la ‘aqla lahu (agama Islam sejalan dengan akal sehat, maka
dianggap tak beragama bagi orang yang tak berakal).
Makna hadis di atas bisa dikaitkan dengan kondisi manusia yang secara usia
telah masuk kategori dewasa karena telah berusia 17 tahun ke atas misalnya
namun jiwanya tidak sehat (gila) maka yang bersangkutan dianggap tidak cakap
hukum sehingga tidak dibebani kewajiban agama. Namun demikian makna hadis itu
bisa dikaitkan dengan manusia yang tidak menggunakan akal sehatnya untuk
menerima kebenaran. Dengan demikian ajaran Islam sangat menghargai pemanfaatan
akal atau rasio yang mengantarkannya kepada kebenaran yang hakiki dan sumber
kebenaran itu sendiri yaitu Allah. Bahkan dalam banyak ayat al-Qur’an
diisyaratkan dalam bentuk pertanyaan: afala ta’qilun (apakah kamu tidak
menggunakan akalmu), afala tatafakkarun (apakah kamu tidak berpikir)?
Berdasarkan asumsi di atas, matematika sebagai salah satu disiplin ilmu
pengetahuan bisa digunakan sebagai pendekatan dalam menjelaskan beberapa
doktrin dalam ajaran Islam. Penggunaan pendekatan matematika di sini bukan
berarti bahwa lemahnya doktrin ajaran Islam tersebut melainkan hanya untuk
menambah keyakinan umat Islam bahwa semua ilmu pengetahuan itu bernilai
kebaikan dan bisa mengantarkan kepada kebaikan yang hakiki serta meningkatkan
keimanan dan kedekatan kepada Allah. Bukankah dalam al-Qur’an sendiri, banyak
ditemukan ayat yang menggunakan angka-angka dalam menyampaikan informasi
kebenaran kepada manusia?
Karena itu tulisan ini akan mengulas sekilas hubungan matematika dengan
Islam, atau analisis beberapa doktrin ajaran Islam dengan pendekatan
matematika.
B. Syarat dan Nilai Amal Ibadah
Ibadah berasal dari akar kata عبد يعبد عبا د ةyang
berari “doa, mengabdi, tunduk atau patuh kepada Allah.” Secara istilah, ibadah adalah “segala aktivitas yang dilakukan
dengan tujuan/motivasi (niat) untuk memperoleh redha Allah (pahala).” Atau
“segala kepatuhan yang dilakukan untuk mencapai rida Allah atau dengan
mengharapkan pahala-Nya di akherat.”
Dengan
demikian ibadah tidak hanya terbatas kepada aktivitas yang telah ditentukan
oleh syariat sebagai kewajiban atau anjuran (sunnat) akan tetapi ibadah
memiliki cakupan yang sangat luas. Kebanyakan umat Islam membatasi ibadah hanya
pada ibadah salat, puasa, zakat, haji serta beberapa ibadah lainnya. Sedangkan
aktivitas seperti menuntut ilmu, bekerja mencari nafkah bukan dikategorikan
sebagai ibadah, melainkan hanya aktivitas keduniaan semata. Padahal menurut Islam semua
aktivitas manusia bisa diarahkan kepada ibadah dan memang seharusnya semua
tindakan manusia harus bernilai kebaikan.
Ibadah dapat
dibagi berdasarkan:
1. Tata cara pelaksanaannya,
ibadah terbagi dua macam:
a. Ibadah Mahdah (ibadah khusus),
yaitu ibadah yang tata cara pelaksanaannya telah diatur secara jelas dan rinci
(khusus) oleh syara, seperti shalat, puasa, zakat, haji, nikah, dsb.
Ibadah mahdah disebut juga ibadah
ritual karena harus dilakukan sesuai dengan ritual (tata upacara) yang telah
ditentukan dan orientasi utamanya untuk menjalin hubungan dengan Allah. Dalam
ibadah ini tidak boleh diubah tata caranya berbeda dengan yang dicontohkan oleh
Rasulullah saw. Dalam bidang ibadah
mahdah dikenal bid’ah, yakni amalan ibadah mahdah yang
ditambah atau dikurangi dari apa yang dicontohkan oleh Nabi saw atau
sahabatnya, apalagi amal ibadah yang diada-adakan.
b. Ibadah ghairu
mahdah (ibadah umum/universal), yaitu ibadah yang tata cara pe-laksanaannya
tidak diatur secara jelas dan rinci oleh syara, seperti menuntut ilmu, bekerja
mencari nafkah, menutup aurat, dsb.
Disebut ibadah umum/universal karena
eksistensinya sebagai ibadah bersifat universal (umum) tetapi tata cara
pelaksanaannya diserahkan kepada adat istiadat (hasil kreasi, inovasi) manusia.
Dalam ibadah ini syariat hanya
menegaskan bahwa menuntut ilmu, bekerja mencari nafkah, menutup aurat wajib
hukumnya (ibadah) namun tata caranya tidak ditentukan oleh syariat tetapi
diserahkan kepada kreativitas dan inovasi manusia. Yang terpenting ilmu yang
dituntut itu bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan, bukan ilmu sihir atau
ilmu yang membahayakan manusia.
Misalnya:
Menutup aurat (kewajiban memakai jilbab)
termasuk ibadah ghairu mahdah karena yang dijelaskan al-Qur’an dan hadis
hanya ketentuan wajib menutup aurat tetapi ketentuan mengenai mode, kualitas
kain dan sebagainya diserahkan kepada hasil kreasi manusia. Dalam hal ini yang
terpenting jilbab tersebut memenuhi syarat pakaian yang menutup aurat yakni
tidak ketat, tidak transparan serta tidak memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya
(tidak merangsang).
Dalam bekerja mencari harta syariat
hanya mengatur agar harta diperoleh dengan cara-cara yang benar serta
dimanfaatkan untuk kebaikan. Namun tidak diberikan rincian mengenai jenis usaha yang akan digeluti dan teknik pelaksanaannya. Hal itu mengandung hikmah agar umat manusia termasuk umat Islam memiliki kebebasan dalam mencari jenis usaha dan bagaimana mewujudkannya. Yang terpenting dan harus diperhatikan adalah usaha yang digeluti itu bukan jenis usaha yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya dalam al-Qur'an dan hadis, seperti riba, melakukan jual beli barang haram, atau mengandung penipuan dan sejenisnya.
Menuntut ilmu juga adalah ibadah umum
karena diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam al-Qur’an dan hadis namun
tata caranya tidak ditentukan secara khusus oleh syara. Hal itu mengandung makna bahwa semua ilmu adalah berasal dari Allah dan karena itu mengandung kebaikan untuk manusia dan kemanusiaan serta alam semesta. Ilmu yang dilarang dipelajari hanya ilmu sihir atau black magic, yang memang tidak bermanfaat dan bahkan dapat mendatangkan bahaya bagi manusia, baik di dunia maupun di akherat.
2. Berdasarkan manfaatnya,
ibadah terbagi dua macam:
a. Ibadah Syakhsiyah (ibadah
individual), yaitu ibadah yang berupa hubungan individu dengan Tuhannya serta
manfaat (pahala)nya hanya diperoleh/dinikmati individu yang bersangkutan,
seperti shalat, puasa, dsb. Jadi, manfaatnya hanya bersifat pribadi. Ibadah syakhsiyah hanya memberikan pahala dan manfaat bagi pelakunya.
b. Ibadah ijtima’iyah (ibadah
sosial), yaitu ibadah yang berupa hubungan antar sesama manusia serta dapat
dirasakan manfaatnya oleh orang lain, seperti zakat, sedekah, infaq, berkurban,
menuntut ilmu, bekerja mencari nafkah, dsb.
Disebut ibadah sosial karena dalam
pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut selain
menjalin komunikasi dan hubungan dengan Allah juga dapat terjalin
hubungan harmonis dengan sesama manusia (penerima zakat, sedekah, infaq, hewan
kurban, murid yang menerima ilmu, orang lain dapat memenuhi nafkahnya) dsb.
Memberi zakat, sedekah, infaq disebut
ibadah sosial sebab diperintahkan Allah dan Rasul-Nya dan manfaatnya dapat
dirasakan oleh orang yang menerima zakat, sedekah dan infaq tersebut. Demikian
juga menuntut ilmu adalah ibadah sosial dan manfaatnya dapat dirasakan oleh
banyak orang jika ilmunya diajarkan kepada orang lain. Karena itulah meski orang berilmu telah tiada namun pahalanya akan terus mengalir berbanding lurus dengan jumlah orang yang mengamalkan ilmu yang diajarkannya.
Meskipun demikian perlu diketahui kriteria suatu amalan bisa dikategorikan
sebagai ibadah (bernilai kebaikan dan berpahala) atau justru menjadi dosa.
Banyak orang mengira suatu perbuatan bisa bernilai ibadah (kebaikan dan
berpahala) jika diniatkan untuk kebaikan, tanpa memperhatikan cara atau
prosesnya. Sehingga dalam realitas menimbulkan berbagai penyimpangan tanpa
merasa bersalah bahkan merasa telah melakukan kebaikan (ibadah) dengan bangga. Seolah-olah segala bentuk perbuatan manusia akan langsung dinilai ibadah hanya berdasarkan pada niat baiknya. Hal itu merupakan kesalahpahaman terhadap hadis niat, bahwa innamal a'malu bin niyyat.
Padahal suatu perbuatan baru bisa dikategorikan sebagai ibadah jika
memenuhi minimal dua syarat secara kumulatif, yakni cara harus benar dan niatnya
juga harus benar menurut syara. Hal itu bisa digunakan pendekatan perkalian
dalam matematika, yang bisa diilustrasikan dengan rumus berikut ini.
Ibadah: caranya benar (+) x
niatnya benar (+) = + (pahala/diredai
Allah).
Misalnya: shalat dilakukan sesuai syarat dan rukunnya serta niatnya
karena Allah.
Tata cara dan niat yang benar disimbolkan dengan tanda positif (+). Menurut
logika matematika perkalian positif (+) dengan positif (+) selamanya akan
menghasilkan positif (+) pula. Tidak pernah terjadi (mustahil) perkalian
positif (+) dengan positif (+) akan menghasilkan negatif (-).
Amalan tersebut harus dilakukan secara benar sesuai syariat dan diniatkan
karena Allah. Dalam shalat, harus dilakukan dengan tata cara yang benar seperti
yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, baik syarat maupun rukun serta
menghindari hal-hal yang membatalkannya. Proses pelaksanaan shalat yang benar
itu baru akan dinilai sebagai ibadah di sisi Allah jika shalat yang didirikan
itu diniatkan karena Allah.
Sebaliknya, menurut ajaran Islam suatu amalan tak akan dinilai ibadah di
sisi Allah jika niatnya salah (-), bukan karena Allah meskipun tata cara
pelaksanaan amalan tersebut telah benar (+), sesuai dengan ketentuan syariat
Islam. Hal itu bisa dibuktikan dengan amalan yang diniatkan karena pamer (riya)
yang dalam Islam justru dikategorikan sebagai salah satu perbuatan dosa (-).
Jadi, jika salah satu atau kedua syarat amalan tersebut bernilai negatif (-)
maka amalan itu akan bernilai dosa (-). Ilustrasinya seperti di bawah ini.
* Bukan ibadah: caranya benar (+) x
niatnya salah (-) = - (dosa/dimurkai
Allah).
Misalnya: shalat, zakat, sedekah dilakukan sesuai
syarat dan rukunnya tetapi niatnya karena riya. Begitu juga menikah dilakukan
dengan memenuhi syarat dan rukunnya tetapi niatnya untuk menyakiti istri/suami.
* Bukan ibadah: caranya salah (-) x
niatnya benar (+) = - (dosa/dimurkai
Allah).
Misalnya: mencuri dengan niat untuk menolong orang miskin dengan
uang curian itu.
Memberi
jawaban ujian kepada teman dengan niat menolong sesama teman.
Tata cara atau niat yang salah disimbolkan dengan tanda negatif (-).
Menurut logika matematika perkalian negatif (-) dengan positif (+) atau
sebaliknya selamanya akan menghasilkan nilai negatif (-) pula. Tidak pernah
terjadi (mustahil) perkalian negatif (-) dengan positif (+) akan menghasilkan
positif (-).
Berdasarkan rumus di atas shalat, nikah, yang dilakukan bisa saja tata
caranya benar sesuai syariat namun karena niatnya tidak benar (karena ingin
dipuji, riya) maka nilai shalat dan nikah tersebut bukan ibadah melainkan dosa
(-). Demikian pula pemberian bantuan kepada fakir miskin atau orang-orang yang
membutuhkannya, bisa jadi dari harta yang halal namun jika bantuan itu
diberikan dengan niat agar dianggap dermawan apalagi agar dipilih dalam
Pemilu/Pemilukada, maka bantuan itu tidak akan bernilai ibadah (+) melainkan
dosa (-). Sehingga sedekah/zakat yang disebut-sebut untuk riya tak akan bernilai pahala, seperti diungkapkan dalam QS al-Baqarah:
264
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ
مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ
كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا
يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ
الْكَافِرِينَ
‘Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang
menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di
atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia
bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka
usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.’
Rumus itu berlaku juga dalam amalan yang dilakukan dengan niat yang baik,
karena mencari reda Allah (+) namun dilakukan dengan cara yang salah,
bertentangan dengan syariat (-), maka tak akan menjadi ibadah (+) melainkan
dosa (-). Misalnya, memberikan bantuan untuk panti asuhan, pembangunan masjid,
madrasah dan fasilitas sosial lainnya dari uang korupsi. Maka meskipun
diniatkan karena Allah namun karena uang sumbangan diperoleh dari cara yang
salah maka nilai amalannya bernilai dosa (-). Dalam kaitan ini dosa korupsi
tidak bisa dicuci dengan sedekah sebab yang disedekah/disumbangkan bukan haknya
melainkan hak rakyat. Hal itu dapat diibaratkan dengan mandi, tujuan utamanya
adalah untuk membersihkan badan dari kotoran/keringat. Namun tujuan dari mandi
tadi tak akan terwujud jika dia mandi menggunakan air kotor.
Di samping itu dalam perbuatan zina yang terkadang mengakibatkan kehamilan
digunakan rumus:
* Bukan ibadah: caranya salah (-) x
niatnya salah (-) = + (dosa/dimurkai
Allah).
Karena berzina merupakan hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan di luar ikatan perkawinan (cara yang salah) dan niatnya
juga tentu bukan untuk hamil, namun biasanya mudah hamil (+). Dalam tes kehamilan secara medis, peristiwa
kehamilan lebih dikenal dengan istilah positif, tidak hamil dikenal dengan
negatif.
Karena itu
dalam melakukan kebaikan hendaklah senantiasa memperhatikan dua aspek yakni
tata caranya harus benar dan diniatkan untuk Allah. Tidak bisa hanya
memperhatikan aspek tata cara dengan mengabaikan aspek niat. Begitu pula
sebaliknya.
Simbol-simbol matematika di atas dapat juga dibaca dengan makna bahwa + x + = + jika sesuatu yang benar dianggap benar maka hal itu benar. Akan tetapi + x - = - jika sesuatu yang benar dianggap salah maka hal itu salah. Begitu juga - x + = - jika sesuatu yang salah dianggap benar, maka hal itu salah. Namun - x - = + jika sesuatu yang salah dianggap salah maka hal itu adalah benar.
Simbol-simbol matematika di atas dapat juga dibaca dengan makna bahwa + x + = + jika sesuatu yang benar dianggap benar maka hal itu benar. Akan tetapi + x - = - jika sesuatu yang benar dianggap salah maka hal itu salah. Begitu juga - x + = - jika sesuatu yang salah dianggap benar, maka hal itu salah. Namun - x - = + jika sesuatu yang salah dianggap salah maka hal itu adalah benar.
C. Nilai Balasan atas Zakat,
Infak dan Sedekah
Salah satu ajaran terpenting dalam Islam adalah mengeluarkan sebagian harta
di jalan Allah. Bahkan kepedulian untuk berbagi harta kepada sesama manusia itu
menjadi salah satu indikator orang bertakwa (muttaqin) seperti yang
diisyaratkan dalam QS al-Baqarah: 2-3
ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين الذين يوءمنون بالغيب و يقيمون الصلوة و
مما رزقناهم ينفقون
‘Kitab
(Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan
menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.’
Anjuran berbagi baik melalui infak, sedekah maupun zakat bukan sekedar
kewajiban melainkan mengandung nilai investasi baik di akherat maupun di dunia.
Nilai investasi akherat tentu berupa pahala yang
mengantarkan ke surga yang memberikan kebahagiaan tak ternilai. Di samping itu
juga Allah yang Mahakaya akan berkenan memberikan “panjar” dalam kehidupan
dunia dari sebagian balasan kebaikan dalam “berbagi” itu. Hal ini dapat
ditelaah dari QS al-Baqarah: 261
مَثَلُ الَّذِينَ
يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ
سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ
يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
‘Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan
Allah adalah sama dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada
setiap tangkai tumbuh 100 biji. Allah melipat gandakan (balasan) bagi siapa
yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.’
Menafkahkan
sebagian harta di jalan Allah biasanya akan terasa berat dibandingkan dengan
menafkahkan sebagian harta di jalan setan. Karena itu Allah menyediakan
ganjaran pahala yang besar sebesar 700 kali lipat bahkan hingga jumlah yang tak
terhingga. Jika kandungan ayat ini dicermati, maka dapat diketahui bahwa nilai
pahala atau balasan yang akan diterima si pemberi berbanding lurus dengan nilai
keikhlasannya saat berbagi atau memberi kepada orang lain. Dengan kata lain
berbanding terbalik dengan besar harapan memperoleh imbalan/balasan dari
pemberiannya itu
Kandungan
ayat ini dapat dijelaskan dengan pendekatan matematika melalui pembagian. Dalam
sistem pembagian terdapat tiga komponen, yakni:
·
Penyebut
melambangkan pemberian (dengan simbol P)
·
Pembagi
melambangkan harapan si pemberi (dengan simbol h)
·
Hasil
melambangkan jumlah balasan yang bisa diterima dari si pemberi (H).
Rumusnya adalah Pemberian = Hasil
harapan
Misalnya: Seseorang memberikan sedekah atau infak sebesar Rp. 1 juta kepada orang miskin dengan harapan yang berbeda-beda. Orang tersebut akan memperoleh balasan yang berbeda-beda pula yang dapat diilustrasikan sesuai dengan rumus di atas:
1 jt/500.000
= 2
1jt/400.000 = 2,5
1jt/300.000
= 3,3
1jt/200.000 = 5
1jt/100.000 = 10
1jt/50.000 = 20
1jt/25.000 = 40
1jt/20.000 = 50
1jt/10.000 = 100
1jt/5.000 = 200
1jt/2.500 = 400
1jt/1.000 = 1.000
1jt/50.000 = 20
1jt/25.000 = 40
1jt/20.000 = 50
1jt/10.000 = 100
1jt/5.000 = 200
1jt/2.500 = 400
1jt/1.000 = 1.000
1jt/0 = ∞
Dari contoh di
atas dapat diketahui bahwa semakin besar harapan si pemberi akan mendapat
balasan dari selain Allah maka akan semakin kecil nilai balasan yang akan
diperoleh secara riil. Sebaliknya, semakin kecil harapan si pemberi akan
mendapat balasan dari selain Allah, maka akan semakin besar nilai balasan yang
akan diperoleh secara riil. Besar kecilnya harapan kepada selain Allah itu
dalam ajaran Islam disebut IKHLAS. Jelasnya, semakin ikhlas dalam memberi maka
akan semakin kecil pengharapannya kepada selain Allah. Bahkan dalam tataran
tertentu jika yang bersangkutan mengosongkan harapannya kepada selain Allah,
maka Allah akan berkenan memberikan balasan yang tak terhingga jumlahnya secara
riil. Itulah IKHLAS yang sebenarnya.
Karena itu pula ikhlas tidak didasarkan kepada ucapan si pemberi, misalnya: "saya beri dengan ikhlas" sebab yang tahu pemberian itu ikhlas atau tidak, hanyalah Allah dan si pemberi. Yang menjadi tolok ukur keikhlasan dalam berbagi kepada sesama adalah niat, dan niat itu ada dalam hati sehingga tiidak bisa direkayasa dengan ucapan seolah-olah ikhlas.
Karena itu pula ikhlas tidak didasarkan kepada ucapan si pemberi, misalnya: "saya beri dengan ikhlas" sebab yang tahu pemberian itu ikhlas atau tidak, hanyalah Allah dan si pemberi. Yang menjadi tolok ukur keikhlasan dalam berbagi kepada sesama adalah niat, dan niat itu ada dalam hati sehingga tiidak bisa direkayasa dengan ucapan seolah-olah ikhlas.
Bukankah
dalam realitas banyak orang yang memberi karena mengharapkan sesuatu kepada
manusia, baik berupa pujian, imbalan materi, kedudukan, status sosial dan
sebagainya. Namun terkadang merasa kecewa lantaran harapannya tak terwujud.
Membagi-bagi uang atau sembako kepada calon pemilih, memberi sumbangan kepada
panitia pembangunan masjid, majelis ta’lim dengan harapan agar mereka berkenan
memilihnya dan jika menang dalam pemilihan maka akan memperoleh gaji plus
tunjangan besar sehingga bisa memperoleh uang atau harta yang banyak. Namun
ternyata harapannya melesat sehingga mengalami kerugian.
Sebaliknya,
pemberian secara ikhlas meski nilai nomimalnya kecil namun bisa mendatangkan
keberkahan hidup. Yang terpenting sebenarnya bukan besarnya nilai materi yang
dimiliki namun nilai keberkahannya. Bisa jadi, harta yang dimiliki besar
jumlahnya namun belum tentu memberikan kebahagiaan lantaran tidak berkah. Hartanya melimpah namun hidupnya tidak bahagia karena anaknya ketagihan miras atau narkoba.
Itu bukan berarti umat Islam dilarang kaya namun alangkah berbahagianya jika kekayaannya dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain melalui infak, sedekah dan zakat yang diberikannya kepada orang yang membutuhkannya. Kebahagiaan orang yang dibantunya secara psikologis akan memantul juga ke dalam hati si pemberi. Rasa bahagia seperti itu sebenarnya sangat besar nilai bahkan tak ternilai dengan materi. Namun terkadang manusia mencari kebahagiaan semu dan meninggalkan kebahagiaan yang hakiki.
Memang banyak orang bahagia bukan karena pada manfaat dari apa yang dimilikinya namun pada berapa jumlah yang dimilikinya. Sehingga bisa jadi hidupnya tampak seperti orang miskin, padahal uangnya banyak. Dia tidak memanfaatkan uangnya untuk kemaslahatan dirinya karena baginya, bahagia saat melihat tumpukan uangnya, atau jumlah deposita.
Sedangkan orang dermawan bahagianya lantaran bisa membahagiakan orang lain yang sedang kesusahan, karena itu dia tak akan mengharapkan balasan apa-apa (pengharapannya nol) dari orang yang dibantunya, namun yang menjadi pengharapannya adalah reda Allah. Jika keredlaan Allah bisa diraih maka hal itu bisa memberikan manfaat besar dunia dan akherat. Wallahu a'lam bis shawab.
CATATAN TAMBAHAN:
Bagi yang berminat mengkaji, meneliti atau mendampingi korban kekerasan dalam rumah tangga khususnya perlindungan korban kekerasan dalam rumah tangga, baik dalam perspektif hukum pidana Indonesia maupun hukum Islam, dapat membaca buku saya yang berjudul "PROTECTION OF THE RIGHTS OF DOMESTIC VIOLENCE VICTIMS: Perspective Indonesian Criminal Law and Islamic Law," yang diterbitkan oleh LAP- Lambert Academic Publishing, Jerman.
Buku tersebut dapat dibeli di toko buku online, Morebooks, mitra Penerbit Lambert Academic Publishing Jerman seharga 59,90 Euro. Untuk jelasnya dapat dilihat pada laman berikut ini:
ttps://www.morebooks.de/ store/de/book/protection-of- the-rights-of-domestic- violence-victims/isbn/978-3- 8484-8749-3
Itu bukan berarti umat Islam dilarang kaya namun alangkah berbahagianya jika kekayaannya dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain melalui infak, sedekah dan zakat yang diberikannya kepada orang yang membutuhkannya. Kebahagiaan orang yang dibantunya secara psikologis akan memantul juga ke dalam hati si pemberi. Rasa bahagia seperti itu sebenarnya sangat besar nilai bahkan tak ternilai dengan materi. Namun terkadang manusia mencari kebahagiaan semu dan meninggalkan kebahagiaan yang hakiki.
Memang banyak orang bahagia bukan karena pada manfaat dari apa yang dimilikinya namun pada berapa jumlah yang dimilikinya. Sehingga bisa jadi hidupnya tampak seperti orang miskin, padahal uangnya banyak. Dia tidak memanfaatkan uangnya untuk kemaslahatan dirinya karena baginya, bahagia saat melihat tumpukan uangnya, atau jumlah deposita.
Sedangkan orang dermawan bahagianya lantaran bisa membahagiakan orang lain yang sedang kesusahan, karena itu dia tak akan mengharapkan balasan apa-apa (pengharapannya nol) dari orang yang dibantunya, namun yang menjadi pengharapannya adalah reda Allah. Jika keredlaan Allah bisa diraih maka hal itu bisa memberikan manfaat besar dunia dan akherat. Wallahu a'lam bis shawab.
CATATAN TAMBAHAN:
Bagi yang berminat mengkaji, meneliti atau mendampingi korban kekerasan dalam rumah tangga khususnya perlindungan korban kekerasan dalam rumah tangga, baik dalam perspektif hukum pidana Indonesia maupun hukum Islam, dapat membaca buku saya yang berjudul "PROTECTION OF THE RIGHTS OF DOMESTIC VIOLENCE VICTIMS: Perspective Indonesian Criminal Law and Islamic Law," yang diterbitkan oleh LAP- Lambert Academic Publishing, Jerman.
Buku tersebut dapat dibeli di toko buku online, Morebooks, mitra Penerbit Lambert Academic Publishing Jerman seharga 59,90 Euro. Untuk jelasnya dapat dilihat pada laman berikut ini:
ttps://www.morebooks.de/